Jeda, Andien Wanita Hebat

 

        “huk...huuk......uhuk.....”

Pada dini hari itu Andien mendengar suara batuk tak henti dari kamar Ibunya. Bergegas dia bangun dan menuju sumber suara tersebut.

Andien menyaksikan Ibunya sedang batuk di dekat jendela kamar. Perasaan Andien langsung tidak nyaman, “kenapa malam-malam begini Ibu batuk sampai membuka jendela”, katanya dalam hati. Spontan Andien langsung mendekat, dan betapa kagetnya dia melihat ada beberapa bongkahan darah kental ditangan Ibunya. Andien kaget, jantungnya berdetak hebat, dan bertambah berat rasanya beban di hati dan pikirannya.

Bagaimana tidak, sudah sejak kelas 2 SMA dia sering mendapat perlakuan tidak senonoh dari pamannya sendiri. 

Hari-harinya dipenuhi oleh bahaya yang selalu mengintainya, tapi setiap itu juga mulutnya tetap bungkam, enggan bercerita, apalagi melapor. Andien bungkam oleh pikirannya sendiri. Dia takut, jika ayah dan saudaranya sampai tahu, hal yang lebih buruk bisa saja terjadi.

Ayahnya akan mengamuk, dan bisa saja salah satu dari mereka akan terbunuh atau dirinya sendiri yang akan dibunuh. 

Beban Andien semakin berat saat sudah memasuki kelas 3 SMA. Dia harus belajar ekstra agar dapat lulus dengan nilai terbaik. Tapi sekarang dia harus terima kenyataan bahwa Ibunya mulai sakit-sakitan.

Tubuh Ibunya sudah tidak kuat dengan dinginnya cuaca dini hari untuk berjualan sayur di pasar. Lalu, dengan apa Andien harus membayar ongkos untuk sampai ke sekolah? Ekonomi keluarganya benar-benar sedang berada pada titik terendah.

Jangankan untuk ongkos, untuk makan saja susah. Andien mulai bingung, usianya memang sudah 17 tahun, tapi tetap saja dia seperti gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Sebab, selama ini dia hanya dilatih untuk belajar, menyelesaikan soal matematika yang rumit, ataupun soal-soal kimia yang memusingkan kepalanya, bukan untuk menyelesaikan persoalan hidup. Ini adalah tahun-tahun yang berat bagi Andien. 

Baginya, ujian seperti datang dari segala penjuru. Dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Andien sering berpura-pura demam, karena tahu Ibunya tidak punya uang untuk uang untuk dia bisa berangkat sekolah.

Dia benar-benar tidak sampai hati melihat Ibunya harus berhutang kepada tetangga untuk hal itu. Tentu saja hal ini membuat prestasinya menurun.

Belum lagi uang untuk membeli buku pelajaran yang sudah tentu dia tidak punya. Dan saat ini, Andien harus terima kenyataan bahwa pasti telah terjadi sesuatu dengan paru-paru Ibunya. Ibunya akan terbaring lama. Berbagai macam hal langsung terpikirkan.

Dengan apa dia harus sekolah? Dengan apa dia harus bawa Ibunya berobat? Dengan apa dia dan adik-adiknya harus makan? Ayahnya yang buruh bangunan juga sudah lama tidak bekerja. Selama ini ayahnya berganti profesi dengan membantu Ibunya memamen hasil kebun orang untuk dijualkan ke pasar.

Dia sudah tau pasti ayahnya tidak akan bisa berbuat banyak, karena selama ini yang gigih berjuang itu adalah Ibunya. Hari - hari berat mulai dilaluinya, Ibunya benar-benar terbaring sakit.

Sangat sering Andien tidak sekolah dengan alasan sakit. Andien pun mulai di cap sebagai siswa yang penyakitan. Hingga beras yang biasa dimasak jadi nasipun pun sudah mulai berganti dengan beras yang paling murah di pasaran. Ini pun berkat uang pemberian keluarga yang merasa iba. 

Sebetulnya Andien punya kakak yang sudah menikah, tapi sayang, penghasilan suaminya juga tidak seberapa. Meski tidak dapat berbuat banyak, kakaknya juga ikut berperan untuk membuat mereka bisa bisa bertahan hidup. Jika kadang Andien bisa ke sekolah, itu berkat bantuan kakaknya atau ada sedikit pekerjaan yang bisa dilakukan ayahnya. Jika tahu akan begini, mungkin Andien tidak akan memilih bersekolah sejauh itu. Meski itu adalah salah satu dari banyak mimpinya yang terwujud.Mimpi dapat bersekolah di sekolah favorit kala itu.

Tapi sayang, jalannya sudah tidak mulus lagi, di penghujung jalan berbagai ujian datang. Juara kelas sudah tentu lepas ditangannya, bahkan keluar dari peringkat 10 besar harus diterimanya. Andien dikalahkan oleh keadaan.

Tapi tetap saja dia belum mengaku kalah. Meski tidak bisa ke sekolah dia memilih membaca buku di rumah. Dia ingin lulus dan lanjut ke Perguruan Tinggi.

Meski semuanya masih nampak gelap. Andien pikir ini adalah ujian terberat, tidak akan ada lagi setelah ini. Dia hanya butuh sabar, memohon dan berharap badai segera berlalu. 

Tapi Andien salah, sepertinya dia memang diciptakan untuk menjadi gadis yang kuat. Pagi itu, tiba-tiba kakaknya menangis, suaminya menghilang beserta dengan baju-bajunya dilemari. Entah apa gerangan yang terjadi, namun yang pasti ini sudah tentu tentang sesuatu hal yang buruk.

Kepala Andien terasa mau pecah. Hatinya kacau tak terkira menyaksikan air mata ibunya yang sedang terbaring sakit tiba-tiba meleleh ketika tahu akan hal itu. Berselang dua jam, satu tanya pun terjawab, adik dari suami kakaknya datang membawa selembar surat, surat cerai. Tangis dirumah itu pun pecah.

Bagaimana tidak, rumah tangga kakaknya selama ini baik-baik saja. Lalu kenapa begini? Tangispun pecah dengan seribu tanda tanya di kepala Andien semakin merasa tak kuat menerima kenyataan ini. Dia bisa merasakan bagaimana pedihnya luka kakaknya.

Belum lagi hal-hal yang harus dihadapi setelah ini. Selama ini kakaknya yang turut serta membantu beban keluarga, tapi sekarang, kakaknya pun sudah kehilangan sandaran hidupnya. Andien mulai sakit-sakitan menjalani semuanya.

Kepalanya sering tiba-tiba sakit, lalu tiba-tiba terduduk dan tidakjarang juga dia tumbang. Sepertinya dia mulai stres level akut. 

Waktu pun berlalu, semua tanya terhadap apa yang terjadi dengan kakaknya telah terjawab. Abang iparnya itu telah menikah lagi karena telah menghamili perempuan lain. Ternyata selama ini suami kakaknya itu berselingkuh dengan rekan kerjanya yang juga sudah kenal dekat dengan keluarga Andien.

Kakak Andien pun mulai menunjukan gejala stres, dia tidak peduli dengan anaknya yang masih kecil-kecil. Hari-harinya hanya memikirnya suaminya, kakaknya benar-benar tidak bisa menerima kenyataan ini. Andien benar-benar sudah ingin lari dari semua kenyataan ini.

Dengan penuh kepura-puraan dia sampaikan kepada Ibunya, dia sedang bosan belajar, sedang lelah melihat buku-buku, dia tidak ingin langsung melanjutkan kuliah tahun ini.

Padahal jauh didalam hatinya bathinnya menangis, kampus STAND, UNP, UNAND yang menjadi targetnya selama ini sepertinya hanya akan menjadi impian yang harus dikubur.

Jangankan untuk biaya masuk kuliah, uang untuk beli formulir pendaftaran saja sudah bisa dipastikan Ibunya tidak punya.

Belum lagi bahaya dari pamannya sendiri yang terus mengintainya. Ini benar-benar berat bagi Andien. Kota Batam pun terbayang menjadi tujuan pelariannya. Dia bisa bekerja disana, dan memulihkan kembali keadaan ekonomi keluarganya. 

Hari kelulusan yang dinanti-nanti pun tiba. Andien bersyukur masih bisa lulus dengan rata-rata nilai 8,5. Seiring dengan itu, badai pun mulai mereda, kakaknya sudah dapat berpikir logis dan tenang. Kali ini, giliran dia yang seperti memahami kedaan Andien.

Dia bilang, “tidak usah bersedih, untuk saat ini mencari pekerjaan ke Batam mungkin salah satu pilihan terbaik. Aku disini juga akan bangkit, aku akan segera mencari pekerjaan untuk menghidupi anak-anakku.

Tidak apa menjadi tidak sama lagi dengan teman-teman seangkatanmu disini. Kamu mungkin tertinggal untuk kuliah, tapi apa yang terjadi esok hari kita tidak pernah tahu, bisa saja esok kamu yang mencapai sukses duluan. Pergilah...” begitu ujar kakaknya.

Berkat kebaikan teman ayahnya, Andien mendapat pinjaman untuk biaya berangkat ke Batam, meskipun memang sangat pas-pas an sekali. Tetapi tekadnya sudah bulat, dia siap menghadapi apa yang terjadi. Karena dia yakin, Allah tidak akan mengujinya melampui batasanannya. 

Dan sepertinya memang demikian, perlahan-lahan, takdir seperti mulai berpihak kepadanya. Hanya butuh satu minggu, dia mengelilingi kawasan perusahaan di Kota Batam untuk melamar pekerjaan. Salah satu perusahaan langsung menerimanya bekerja.

Ini juga berkat nilai-nilai yang tertera disetiap ijazahnya. Awalnya Andien ditolak, karena tinggi tubuhnya yang kurang menurut kriteria mereka, tapi baru saja selangkah Andien meninggalkan mereka, Andien kembali dipanggil dan dinyatakan lulus tanpa tes selanjutnya. Andien sangat bersyukur karena mendapat pekerjaan disaat uangnya sudah benar-benar habis.

Meski dia tahu, akan berat menjalani hari-hari menjelang gajian pertamanya. Tetapi Andien tetap ikhlas menjalani meski makan cuma sekali sehari yang dia dapat dari jatah makan siang di perusahaan. Bahkan Andien pernah beberapa kali tidak makan, karena tidak mendapat jatah lembur pada hari Minggu. 

Perlahan-lahan takdir memang mulai berpihak kepada Andien. Gaji pertama sudah dia terima. Dia mulai bisa melengkapi kebutuhannya. Dia sudah bisa hidup dengan layak. Tentunya, gaji kedua, ketiga dan seterusnya juga sudah bisa dia sisihkan untuk membantu ekonomi keluarganya dikampung. Andien tidak lupa dengan cita-citanya, semangat itu masih ada.

Dia masih menyempatkan diri untuk belajar, sebelum kantuk benar-benar membawanya lelap. Dua tahun pun berselang. Keadaan sudah membaik, paman yang pernah menjadi mimpi buruk baginya sudah ditangkap karena kasus narkoba.

Begitu juga dengan kakaknya, sudah resmi bercerai. Kakaknya sekarang bekerja di sebuah restoran untuk menghidupi dua anaknya. Ibunya pun sudah mulai pulih meski tetap minum obat rutin. 

Perlahan-lahan Andien pun mulai fokus pada pencapaian mimpi-mimpinya. Dia kembali ke kampung halamannya dan berhasil menjadi bagian dari almamater kuning yang pernah menjadi target hidupnya.

Nilai-nilai yang diperolehnya pun membuatnya mendapat beasiswa selama perkuliahan. Andien lulus dengan predikat Cumlaude.

Tidak hanya itu, nasib baik terus berpihak kepadanya. Penerimaan CPNS seperti langsungmenyambutnya dengan sebang hati setelah kelulusannya.

Andien berhasil melewatisegala tesnya dengan baik. Sekarang Andien telah menjadi guru di sebuah Sekolah Dasar dengan status PNS.

Andien dan mimpinya telah menjadi temu. Membuat Andien semakin memahami bahwa skenario yang kita susun tidak selamnya berjalan mulus. Terkadang berbelok arah, tapi percayalah seknarioNya pasti lebih indah.

Ada masa hidup seperti berakhir hari ini, impian – impian seperti harus dikubur dalam-dalam.

Tapi percayalah, itu bukanlah titik yang membuat kita harus berhenti. Tetapi jeda, yang meminta kitasejenak berhenti, beristirahat, atau pindah pada alur cerita yang lain, lalu kembali.

Jeda, Andien Wanita Hebat Jeda, Andien Wanita Hebat Reviewed by Purnama Merindu on Desember 29, 2023 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.