***
Semenjak aku tahu apa yang sesungguhnya terjadi, aku mulai dingin dan tidak begitu peduli dengan Alice. "Ah, bukan urusanku", begitu pikirku. Namun, aku juga sudah terlanjur tahu dengan segala medsosnya. Story-story Alice sering lewat diberandaku. Tentu saja, semua story-storynya layaknya orang patah hati dan kehilangan semangat hidup. Teman satu kosanku juga ada yang mengenal Alice. Semenjak aku pernah cerita tentang Alice di kosan, jiwa kepo temanku ini sepertinya kumat. Dia sering mencari tahu tentang hubungan Alice dan mantanku, kemudian sangat antusias menceritakannya. Hingga suatu hari, aku sendiri yang memintanya untuk tidak kepo dengan urusan mereka. "Sudahlah Lisa, aku sudah tidak mau tahu segala tentang mereka, ngapain aku peduli, bukankah aku yang meninggalkan", ujarku.
Pada suatu pagi, aku bermaksud ingin berolahraga ke tempat yang aku ingat Alice pernah cerita kalau dia ngekos dan buka salon di sekitar sana. Aku mencoba menghubunginya, komunikasi yang terjalin selama ini, membuatku juga penasaran dengannya, dan kebetulan saja ada urusan ke arah sana. Aku dengan stelan olahragaku mencoba menemukan alamat Alice sesuai petunjuk yang dia berikan. Tidak begitu sulit menemukannya. Salonnya terletak di keramaian di pinggir jalan. Aku mencoba mengetuk pintu, dan mengucapkan salam. Karena waktu itu masih pagi, sehingga salonnya belum buka.
Tapi hal yang aku temui benar-benar diluar ekpektasi ku. Aku pikir, aku akan menemui gadis sederhana, yang mungkin saja cantik, dan sepadan dengan mantanku. Namun, ternyata tidak, yang aku temui di pagi itu adalah gadis tinggi kurus dengan paras yang menurutku sama sekali tidak cantik. Sehingga aku pun merasa heran "kenapa dia orangnya", pantes dia tinggal mantanku. Ga sebanding dengan mantanku yang memang aku akui ketampanannya. Sepertinya, memang ada yang salah dengan hubungan mereka, hubungan mereka hanya seperti hubungan sesaat yang kemudian hancur. Namun, Alice merasa dirugikan dan tidak rela.
Kembali ke Alice, lagi-lagi dia membuatku tidak habis pikir. Aku pikir aku akan bertemu seseorang yang baru saja bangun tidur, dengan baju tidur atau pakaian harian biasa. Tapi sepertinya dia menyambutku dengan cara yang tidak biasa. Baru saja rolling door ruko itu dibuka, aku dikagetkan dengan tampilannya yang sudah dandan, memakai gaun hitam, rambut terurai dan mengenakan topi pantai. Diatas sebuah meja diletakkan sebuah leptop menghadap ke pintu utama yang mana pada layar leptop fotonya dan mantanku sudah di setting tampil secara bergulir.
Ini benar-benar membuatku mengerutkan dahi. Bagaimana tidak, ini konsepnya nya apa seh? pikirku. Seolah-olah ingin menunjukkan dia lebih cantik dariku. Dan seolah-olah dia ingin membuatku cemburu. Tapi dia salah, gaya nya malah terlihat lucu dan norak, kampungan kalo aku bilang. Ah, maafkanlah, aku yang suka menilai orang seenaknya. Lagian, ngapain juga dia ingin manas-manasin aku dengan foto-foto itu, benar benar aneh. "Kamu ngapain Is, kenapa aku harus disambut dengan foto-foto itu, apa yang ingin kamu tunjukkan?" tanyaku to the point. "Tidak ada maksud apa-apa Put", jawabnya terlihat kaget. "Kenanganmu itu tidak akan pernah ada jika aku masih mau dengannya, dia udah aku buang, paham ga seh", balasku dengan rada jengkel.
Aku pikir pagi itu aku akan ngobrol sambil ngeteh pagi dengannya. Dan bisa jadi selanjutnya kami menjadi teman dekat. Namun, akhirnya hari itu hanya menjadi pertemuan yang sekejap saja. Tingkah anehnya membuatku tidak nyaman. Aku kemudian pamit dan pulang dengan kesimpulanku sendiri yang terus bertambah. Sepertinya bagi mantanku, hubungan dengannya hanya seperti sebuah kecelakaan, mereka tiba-tiba bertemu dan semuanya terjadi begitu cepat. Hingga akhirnya dia menyadari Alice bukanlah perempuan yang tepat untuknya. Tapi sayang, bagi Alice sebaliknya, secara fisik tentu Alice merasa beruntung bisa menjadi pasangannya, sehingga dia rela berikan segalanya. Dan sekarang ditinggal begitu saja, tanpa belas kasihan sedikitpun.
Setelah pertemuan itu, Alice beberapa kali masih menghubungiku. Masih dengan tangis dan air matanya. Kali ini ada kabar yang mengejutkan dari Alice. Dia mengaku merasa sangat frustasi dan putus asa. Setelah kisah cintanya yang kandas, kejadian buruk telah menimpanya. Saudara laki-laki satu-satunya yang membiayai kuliahnya tewas karena sebuah kecelakaan. Tapi sayang, ternyata saudara perempuanku diam-diam memperhatikanku. Dari dulu dia tahu Alice sering menghubungiku. Dia juga pernah beberapa kali melihatku ngomel, karena kelakuan Alice. Kakakku tiba-tiba memgambil ponsel ditanganku. Memaki-maki Alice dan megatakan jangan pernah menghubungiku lagi. "Adikku butuh fokus dengan tugas-tugas kuliahnya, urus saja urusanmu sendiri" begitu katanya pada Alice.
Semenjak kejadian itu, Alice benar-benar tidak pernah berani menghubungiku. Namun, story nya dimedia sosial tetap lewat diberandaku. Nasib buruk lagi-lagi menderitanya, Ibunya meninggal dunia, karena sakit. Ayahnya juga sudah lama pergi, artinya dia kini tinggal sebatang kara. Kuliah nya juga hancur, dia gagal menyelesaikan studynya. Salon yang pernah dirintisnya juga sudah tutup. Hidupnya seperti benar-benar hancur. Story-story di media sosialnya hanya kesedihan demi kesedihan. Sedangkan tentang mantanku sendiri, aku penah berpapasan dengannya ketika melewati sebuah jembatan menuju kosan ku. Dia bersama perempuan yang dimaksud Alice waktu itu. Dan memang benar, hubungannya dengan perempuan itu bertahan hingga mereka memutuskan untuk menikah. Aku juga turut diundang oleh keluarganya dan menghadiri resepsi pernikahannya. Lalu, bagaimanakah nasib Alice sekarang? Terakhir, aku mendapat kabar bahwa dia telah menikah dengan duda tua, ekonomi keluarga mereka juga tidak baik, sehingga Alice juga harus berjuang membesarkan anak-anaknya.
#end
Tidak ada komentar: