"Buk, Ibuk dimana, Alya rindu Ibuk, bisakah kita bertemu. Seseorang tiba-tiba mengirim pesan di aplikasi messengerku. Aku kaget dan sontak langsung mencek profil si pemilik akun. Namun sayang, tidak ada apa-apa yang aku temukan pada akunnya, tidak ada foto atau story apapun. Namun, Si pemilik akun mengaku dia adalah Alya eks muridku yang mengajakku kembali memutar kenangan 10 tahun yang lalu.
***
Selamat pagi Buk Una.
Itu adalah kalimat yang selalu ku dengar setiap pagi pada 10 tahun yang lalu. Hampir setiap pagi aku mendapat ucapan selamat pagi pertama dari gadis kecil si paling rajin di kelas ini. Namun, tidak untuk dipagi itu. Pagi yang sangat berbeda dari biasanya. Si gadis kecil itu tidak tampak lagi, ntah kemana dia, tiada kabar.
Namanya Alya, gadis kecil sederhana, namun sangat istimewa dihati gurunya ini. Aku tahu banyak tentang isu-isu menyangkut keluarga besarnya. Sehingga Alya menjadi istimewa dihatiku. Setiap hari aku memastikan bahwa dia ada jajan dan terus memotivasinya untuk tetap sekolah. Ayahnya sakit-sakitan, Ibu dan hampir seluruh saudara perempuan Alya berpenampilan seperti preman, merokok, berambut pirang dan berpakaian seksi. Bahkan ada yang bilang Ibunya pekerja seks komersial. Ibunya sering bepergian dan seperti tidak peduli dengannya. Beberapa saudaranya yang hampir sebaya dan bersekolah disini akhlaknya juga tidak bagus, mereka gemar mencuri dan bolos sekolah. Namun, Alya beda sendiri, anaknya lembut, pendiam dan rajin sekali. Dia adalah satu-satunya siswa yang selalu datang paling awal dan langsung sibuk merapikan kelas. Ada Alya seolah-olah jadwal piket kelas itu menjadi tidak penting. Sekali waktu, aku pernah menanyai Alya perihal cita-cita dan siapa yang mengurusinya setiap hari. Tentang cita-cita dia hanya menjawab ingin seperti ku, dan untuk siapa yang mengurusi, bukan Ibunya, tapi saudara jauh Ibunya yang peduli dengannya.
Pertanyaan terbesar pagi itu adalah kemana Alya? Apakah sakit? Pindah sekolah? Atau berhenti sekolah? Tak seorangpun teman-teman sekelasnya yang tahu kemana Alya. Pikiranku penuh tanya, kemana dia pergi. Dari awal aku benar-benar ingin, Alya menjadi anak yang berhasil, tidak rela rasanya jika harus mendengar kabar Alya berhenti sekolah.
Beberapa hari berselang, seorang wanita paruh baya menemuiku. Ternyata beliau adalah saudara yang pernah Alya ceritakan. Beliau bermaksud untuk mengurus surat pindah sekolah Alya. Alya dibawa saudara yang lain karena sangat terpukul mentalnya terhadap kejadian yang menimpa Ibunya. Ibu nya terlibat kasus pencabulan anak-anak dibawah umur. Alya sangat malu dan tepukul karena menjadi bahan bullyan anak-anak sekitar rumahnya. Semua tetangga juga menghujat Ibunya. Ternyata perilaku yang ditunjukkan Ibunya selama ini, bukan berarti membuat Alya kuat dan kebal bullyan, namun kali ini mentalnya benar-benar hancur. Alya malu dan trauma melihat Ibunya dicari-cari polisi. Alya kecil ditinggal kabur Ibunya dengan mental yang benar-benar hancur. Prihatin dengan kondisi Alya, Ibu ini berinisiatif untuk memindahkan Alya ke kota lain. Ibu ini sama sepertiku, memandang Alya sebagai pribadi yang berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain, sehingga ingin melihat Alya tumbuh menjadi pribadi yang sukses di masa depan. Meskipun sangat kehilangan, aku juga sangat mendukung keputusan ini. Dan itulah akhir kisahku dengan Alya waktu itu.
Hari ini, Alya sangat ingin berjumpa denganku, aku penasaran, seperti apa Alya sekarang, tentunya sudah gadis pikirku. Sulit bagiku membayangkan seperti apa Alya remaja, wajah kecilnya sangat melekat dihatiku. Aku mengajaknya bertemu di sebuah mall di kotaku. Dan yang aku bayangkan adalah aku akan bertemu gadis remaja yang mungkin saja berambut panjang terurai, atau sekarang sudah tinggi semampai. Namun, tak satupun dugaanku benar, gadis remaja bercadar tiba-tiba mengucap salam dan mencium tanganku. Apa kabar Ibuk, Alya kangen Ibuk. Aku hanya bisa menatap matanya dan membayangkan paras wajahnya dibalik cadarnya. Tidak banyak hal yang kutahu tentangnya dari pertemuan ini. Alya tetap saja Alya, semua ceritanya dia simpan sendiri. Tatap matanya, seolah menyimpan banyak kisah dibalik cadarnya. Dia seperti menutup dirinya dari kehidupan dunia.

Tidak ada komentar: