Jangan Bertengkar di Depan Anak

Teman-teman para orang tua dimanapun berada, kali ini saya ingin berbagi sedikit cerita tentang bagaimana kejadian yang anak alami dirumah, perasaan dan emosi mereka, akan mereka tunjukkan ketika mereka berada disekolah. Mari sejenak kita simak dan renungi penggalan peristiwa nyata berikut! Ini adalah salah satu pengalaman saya saat saya mengajar di Kelas 6 salah satu Sekolah Dasar.

***

Pagi itu, seperti biasa setelah kegiatan pembiasaan selesai, yang pertama kali saya lakukan adalah membahas PR terlebih dahulu. Selamat pagi anak-anak...apa kabar? Sebelum Ibuk masuk ke materi hari ini, terlebih dahulu Ibu ingin membahas PR yang Ibu berikan kemarin. Ayo, keluarkan buku PR nya, kita bahas bersama-sama! Dari 20 orang murid yang saya ajar, terlihat satu orang murid sebut saja namanya Dani tidak merespon dan terlihat lesu. Wajahnya kusut seperti kurang tidur. Sebetulnya sejak pagi saya sudah melihat ada sesuatu yang berbeda dengannya hari ini. Namun, dengan kesibukan aktifitas pagi disekolah membuat saya belum sempat berkomunikasi apa-apa dengannya. 

"Dani tidak buat PR kah Nak? saya mencoba merespon sikap yang dia tunjukkan. Dia hanya diam seribu bahasa. "Sepertinya Dani ada masalah, tidak apa-apa sayang, perhatikan saja Ibuk menjelaskan", ucap saya sembari melanjutkan membahas PR secara klasikal. Setelah membahas PR saya lanjut menjelaskan pembelajaran di hari itu. Dan saya perhatikan Dani sudah tertidur di meja nya. Saya memberi isyarat kepada siswa yang lain untuk membiarkan Dani tidur dengan nyenyak. 

Hingga jam istirahatpun tiba, Dani terbangun dengan sendirinya karena kelas mulai ribut dengan aktifitas siswa di saat jam istirahat. Saya mencoba memanggilnya dan mengajaknya mengobrol berdua di taman sekolah. "Ada apa Dani? Jika berkenan, ceritalah pada Ibuk?". saya menatapnya penuh rasa sayang. Saya tau persis bagaimana latar belakang anak ini. Kedua orang tuanya sibuk bekerja, dan sering bertengkar, sehingga emosional anak pun menjadi tidak stabil. Menjadi gurunya adalah tantangan tersendiri bagi saya. "Maaf saya tidak buat PR buk, saya tidak bisa konsentrasi, ayah dan ami bertengkar lagi"? jawabnya. "Lalu, apakah kamu tidak tidur?" saya melanjutkan pertanyaan saya. "Tidak buk, saya hanya berpura-pura tidur disaat orang tua saya bertengkar" jawabnya.

Sejenak kami sama-sama terdiam, kemudian Dani tiba-tiba melanjutkan ceritanya "Ayah dan Ami saya sangat sering bertengkar Buk, Ayah terlalu keras pada saya, Ayah sering memaksa saya harus begini harus begitu, sedangkan Ami tidak setuju, sehingga mereka sering bertengkar Buk, saya tidak bisa tidur buk, saya takut jika Ami nanti dipukul Ayah". Wajahnya menunduk seraya meneteskan air mata. Sebagai guru saya juga tidak ingin tahu lebih jauh tentang privasi orang tuanya. Saya kemudian memilih menenangkannya dan menyuruhnya ke kamar mandi untuk mencuci muka.

Nah, teman-teman semua, dari kejadian diatas pelajaran apakah yang bisa kita ambil?. Pelajarannya adalah jangan bertengkar di depan anak. Karena ini nyata mengganggu psikologis mereka. Merusak mental sehat mereka. Karena pikiran mereka sudah dibebani oleh hal-hal yang tidak seharusnya mereka pikirkan. Yang seharusnya mereka mengerjakan PR, malah jadi memikirkan nasib rumah tangga kedua orang tuanya. Jika hal ini dialami anak secara terus menerus, anak akan cenderung menunjukkan sikap negatif atau dewasa sebelum waktunya.

Guru-guru dimanapun di seluruh Indonesia, pasti sering menemui siswa seperti Dani. Anak-anak seperti Dani akan melampiaskan perasaan dan emosinya ketika mereka berada disekolah. Mungkin dalam bentuk perilaku yang nakal, jahat kepada teman-temannya, ataupun sibuk mencari perhatian gurunya dengan berbagai cara. Nah, teman-teman, satu hal yang menarik adalah ketika anak seperti Dani ini menyukai gurunya, merasa disayang oleh gurunya, mereka akan menjadikan guru terserbut sebagai pelarian. Mereka akan menunjukkan sikap bahwa dia sangat haus kasih sayang dan perhatian. Dan ketika kita sebagai guru arif dan meresponnya dengan baik, percayalah, senakal apapun anak ini, dia akan patuh dan hormat kepada kita. Bahkan dia akan sedih sendiri jika telah membuat kita marah atau kecewa. Saya sudah membuktikannya sendiri. 

Kesimpulannya adalah sikap yang ditunjukkan anak di sekolah adalah pantulan dari bagaimana anak dirumah. Anak yang hidup penuh kasih sayang dengan orang tuanya akan terlihat sangat berbeda dengan anak-anak yang tidak bahagia dirumah. Apa pun yang anak lihat dan alami dirumah, hati dan pikiran mereka tentu meresponnya, dan hal-hal yang membuat mereka tertekan akan mereka lampiaskan ketika mereka berada disekolah. Dengan demikian, hendaklah kita bijak sebagai orang tua, sayangi anak kita, bukankah mereka harta kita yang paling berharga?






Jangan Bertengkar di Depan Anak Jangan Bertengkar di Depan Anak Reviewed by Purnama Merindu on Januari 18, 2024 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.