Halo, teman-teman…Apa kabar? Semoga teman-teman semua berada
dalam keadaan sehat dan tetap dalam lindunganNya. Pada artikel kali ini saya
ingin mengajak teman-teman membahas tentang keterampilan coaching dan kenapa
Kepala Sekolah perlu memiliki keterampilan tersebut. Yuk, kita bahas satu-persatu!
Keterampilan coaching itu apa seh?
Teman-teman sebelum kita lanjutkan pembahasan tentang keterampilan
coaching saya ingin perkenalkan dulu beberapa istilah kepada teman-teman, agar pada
bahasan selanjutnya teman-teman ga bingung. Yang pertama “coach”, coach adalah
pemberi manfaat atau pelaksana kegiatan coaching. Yang kedua “coachee”, coachee
adalah penerima kegiatan dan manfaat dari kegiatan coaching. Nah yang ketiga “coaching”,
apa seh itu coaching? Coaching adalah kegiatan percakapan oleh coach yang menstimulasi
pemilikiran coachee dan memberdayakan potensi coachee.
Kenapa Kepala Sekolah perlu menguasai keterampilan coaching?
Seorang Kepala Sekolah tentu tidak terlepas dari kegiatan supervisi
akademik. Yang mana tujuan dari supervisi akademik itu sendiri adalah
memastikan terlaksananya pembelajaran yang berpihak kepada murid dan
pengembangan kompetensi diri pada setiap pendidik. Seorang Kepala Sekolah perlu
memiliki kemampuan mendorong warga sekolahnya untuk dapat mengembangkan kompetensi
diri dan memiliki growth mindset, serta keberpihakan pada murid. Oleh karena itu,
Kepala Sekolah perlu menggunakan pendekatan yang diawali dengan paradigma
berpikir memberdayakan. Nah, teman-teman, salah satu pendekatan yang memberdayakan tersebut adalah coaching.
Coaching dapat menjadi kunci pembuka oleh Kepala Sekolah agar pendidik dapat mengembangkan potensinya dan memaksimalkan
kinerjanya.
Seperti apa paradigma berpikir Coaching itu?
Teman-teman, sebagai Kepala Sekolah, agar dapat membantu rekan guru dalam mengembangkan potensinya Kepala Sekolah perlu memiliki paradigma berpikir coaching. Terutama dalam hal kegiatan supervisi akademik. Apa sajakah paradigma berpikir coaching? Berikut akan kita bahas satu persatu:
- Fokus pada coachee, pada saat ingin mengembangkan kompetensi rekan guru pada kegiatan coaching, Kepala Sekolah perlu memusatkan perhatian pada guru yang ingin dikembangkan, bukan pada situasi yang dibawanya dalam percakapan. Jadi, teman-teman bagaimanapun situasinya pada saat terjadi percakapan, Kepala Sekolah harus tetap fokus pada point-point penting yang disampaikan coachee.
- Bersikap terbuka dan ingin tahu, ciri – ciri sikap terbuka dan ingin tahu dalam hal ini adalah berusaha untuk tidak menghakimi, melabel, berasumsi, atau menganalisis, pemikiran orang lain. Pada saat melakukan coaching, Kepala Sekolah harus menerima pemikiran rekan guru yang dicoachingnya dengan tenang, dan tidak menjadi emosional.Tetap menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap apa yang membuat guru tersebut memiliki pemikiran tertentu. Agar dapat bersikap terbuka, Kepala Sekolah perlu selalu berpikir netral terhadap apa pun yang dikatakan atau dilakukan rekan guru. Jika ada penghakiman atau asumsi yang muncul dipikiran, maka sebagai coach, Kepala Sekolah perlu mengubah pikiran tersebut dalam bentuk pertanyaan untuk mengkonfirmasi penghakiman atau asumsi itu secara hati-hati.
- Memiliki kesadaran diri yang kuat: ketika percakapan coaching berlangsung, Kepala Sekolah perlu mampu menangkap adanya emosi/energi yang timbul dan mempengaruhi percakapan, baik dari dalam diri sendiri maupun cochee/rekan guru.
- Mampu melihat peluang baru: coaching yang dilaksanakan harus mampu mendorong coachee untuk focus pada solusi, bukan pada masalah, karena pada saat berfokus pada solusi, coachee akan menjadi lebih bersemangat dibandingkan jika kita berfokus pada masalah.
Prinsip-prinsip apa yang harus menjadi perhatian pada saat coaching?
Kepala Sekolah perlu tahu prinsip-prinsip coaching agar dapat mencapai tujuan dari kegiatan coaching itu sendiri yaitu:
- Kemitraan, kemitraan ini diwujudkan dengan cara kita membangun kesetaraan dengan orang yang akan kita kembangkan, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah di antara keduanya. Kesetaraan dapat dibangun dengan cara menumbuhkan rasa percaya diri kita, pada saat kita akan mengembangkan rekan sejawat yang lebih tua, lebih senior, dan atau lebih berpengalaman.
- Proses kreatif, Pada saat kita menggunakan prinsip coaching dalam mengembangkan kompetensi diri rekan sejawat, maka percakapan yang berlangsung adalah dua arah. Yang Kepala Sekolah perlu lakukan adalah mendengarkan rekan guru dan kemudian melontarkan pertanyaan untuk membantu rekan guru lebih memahami situasi dirinya, situasi ideal yang dia inginkan, serta langkah-langkah untuk membawa dia dari situasi dia saat ini ke situasi ideal yang dia inginkan.
- Memaksimalkan potensi. Untuk memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat, percakapan perlu diakhiri dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang dikembangkan, yang paling mungkin dilakukan dan paling besar kemungkinan berhasilnya. Selain itu juga, percakapan ditutup dengan kesimpulan yang dinyatakan oleh rekan yang sedang dikembangkan.
Kepala Sekolah sekolah perlu menguasai kompetensi coaching.
Untuk dapat melaksanakan coaching pada kegiatan supervisi akademik, Kepala Sekolah perlu menguasai kompetensi coaching diantaranya sebagai berikut:
- Kehadiran penuh/presence adalah kemampuan untuk bisa hadir utuh bagi coachee, atau di dalam coaching disebut sebagai coaching presence sehingga badan, pikiran, hati selaras saat sedang melakukan percakapan coaching.
- Mendengarkan aktif, kemampuan menyimak perlu dilatih untuk fokus pada apa yang dikatakan oleh coachee dan memahami keseluruhan makna yang bahkan tidak terucapkan.
- Mengajukan pertanyaan berbobot, kompetensi ini berkaitan dengan bagiamana pertanyaan yang diajukan seorang coach diharapkan menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensinya.
Tidak ada komentar: