Pagi itu, seperti biasa saya pergi sekolah dengan jam kedatangan yang sudah hampir menunjukkan bel berbunyi, dikarenakan jarak yang jauh dan kerepotan dipagi hari memang kesulitan untuk datang sangat cepat seperti rekan-rekan lainnya. Tiba-tiba salah seorang murid sebut saja namanya "A"' (anak yang sering membuat masalah dengan temannya di sekolah ) seperti tidak sabar menunggu kedatangan gurunya ini.
Ketika motor berhenti diparkiran terlihat perasaan lega dan bahagia di wajahnya yang kemudian terburu-buru menghampiri, dia langsung mengambil dan mencium tangan guru nya (menyalami), padahal semenjak pandemi Corona sudah tidak ada lagi bersalaman langsung antara guru dengan murid. Lalu, apakah gerangan yang terjadi dengannya?. Ternyata dia hanya tidak sabar ingin bercerita pada gurunya bahwa dia telah menyelesaikan tugas rumah yang diberikan kemaren dengan baik.
Apakah yang dapat kita pahami dari peristiwa yang sangat sederhana ini? Ananda A ingin di apresiasi atas apa yang telah dia perbuat. Ananda ingin dipuji. Ananda A ingin sedikit perhatian dari gurunya.
Sebagai guru, kita tidak boleh mengabaikan moment-moment seperti ini. Fokuskan sejenak perhatian kita untuk menanggapi dan memenuhi harapannya. Tentunya dengan menghargai dan memuji apa yang telah dia lakukan. Karena sebetulnya sedang timbul kesadaran dari dirinya untuk menjadi lebih baik dan membuat hati gurunya senang. Hal seperti ini, bukan kali pertama saya temui. Terkadang ditengah proses pembelajaran ananda A tiba-tiba mengatakan, "Buk, lihatlah saya sudah potong rambut, sudah rapikan buk? ada bagus buk?". Sontak, hal ini membuat kaget dan menyadari bahwa saya telah lupa memperhatikan dan mengapresiasi nya.
Lalu, apa sebetulnya yang terjadi dengan siswa A sehingga perhatian dan penghargaan dari guru itu sangat berarti baginya. Jawabannya adalah karena itu lah bagian yang kosong di dalam jiwanya, yang meminta diisi oleh gurunya.
Ananda A mungkin adalah bagian dari anak yang merasa kurang diperhatikan di rumah, yang merasa kurang dihargai, yang tentu saja hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, mungkin orang tua yang sibuk bekerja, orang tua yang memiliki sikap cuek, atau orang tua yang sudah bercerai dll. Inilah salah satu PR kita sebagai pendidik, yang selain mentransfer ilmu pengetahuan juga menjadi tempat pelarian bagi anak2 yang merasa kurang diperhatikan di rumah.
Teruntuk Bapak/ Ibu guru di seluruh Indonesia, mari sama-sama tetap kita jaga semangat, bekerja dengan ikhlas dan mengajar dengan cinta. Wassalam.
Tidak ada komentar: