Oda dan Kematiannya Part-1



Ting tung….

Tiba-tiba notivikasi WA di hp ku berbunyi. Satu pesan dari kakakku Rani “Aileen, istri Randy meninggal, dia gantung diri”. Ya Allah…benar-benar tak bisa ku ungkapkan apa yang kurasakan saat itu. Tak pernah kubayangkan akan ada kejadian bunuh diri dalam keluarga besarku, apalagi perempuan seperti dia. Ini benar-benar terasa tidak mungkin. Namun, ini adalah kejadian yaag tak bisa kuingkari. Oda telah pergi membawa segala persoalan hidupnya. Meninggalkan tanda tanya bagi yang ditinggalkannya.

***

Namanya Oda, dia adik iparku, yang baru akan kuterima kehadirannya menjadi bagian dari keluarga besarku sesaat sebelum kepergiannya. Entah kapan dan dimana adikku bertemu dengannya. Aku tidak pernah tau dan tidak pernah tertarik untuk bertanya. Sikap adikku yang semakin dewasa semakin nakal, pecandu narkoba dan tidak bertanggung jawab menurutku membuatku malas mengurus hidupnya. Malas bukan karena benci, tak akan pernah ada kata benci bagi seorang saudara perempuan ke adik kandungnya. Sebetulnya lebih kepada kesedihan yang mendalam, melihat adik tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang tidak terarah sehingga hidupnya semakin hari semakin kacau.

Aku tinggal dan bertugas dikota yang berbeda. Tapi setiap ada kesempatan, aku menyempatkan diri untuk pulang kampung. Sampai pada waktu itu, aku pulang kerumah orang tuaku dan mendapati adikku hilir mudik dengan gadis itu. Penampilannya benar-benar seperti anak jalanan. Dan sudah jelas dia sudah tidak dipedulikan keluarganya. Faktanya siang malam dia bersama adikku tanpa ada yang mencari. Entah dimana tidurnya, entah dimana makannya. Dia ikut bergabung bersama anak-anak nakal dikampungku dengan status sebagai pacar adikku yang telah berstatus duda.

Dia Oda…..gadis bepenampilan kucel, rambut di cat pirang, celana levis sobek-sobek, dan merokok. Semakin hari, semakin membuat orang tuaku gelisah. Orang tua ku malu dengan orang-orang kampung, siang malam adiku hilir mudik dengan perempuan tanpa status pernikahan. Aku memang tidak komentar apapun, tapi ada kekesalan yang luar biasa dihatiku. Ada perasaan yang tidak menerima. Karena bagiku pernikahan, bukan hanya sekedar menikah, ijab kabul, kemudian selesai. Tapi pernikahan akan menghasilkan keturunan yang akan berpengaruh kepada nama baik keluarga, dan aku tidak menerima jika harus punya keponakan dari perempuan yang menurut ku perempuan tak jelas. Aku memang tidak pernah bertanya, tapi aku hanya melihat dan menilai secara kasat mata, dan dimataku dia adalah perempuan jalanan, wanita jalang, dan sebagainya.

Ibu dan ayahku mengurus semuanya, tak melibatkanku sama sekali, orang tuaku sangat paham karakterku. Mereka tahu aku membencinya. Malam itu, pernikahan siri itu pun dilangsungkan. Entah dimesjid mana dia dinikahkan oleh Ibuku. Tak sedikitpun aku bertanya. Dia memang tak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa. Dipinjamkan baju dan hijab oleh Ibuku saat itu. Ah, terserah lah…gumamku dalam hati. Ungkapan ketidaksenangan tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Drama baru pun dimulai,

Setelah pernikahan itu selesai, aku pergi kembali ke kota tempatku bertugas, dan pesan ke pada Ibuku, kamarku adalah pribadiku, tidak boleh diganggu-ganggu apalagi diambil oleh mereka. Benar-benar tidak rela. Namun, aku mendapat laporan yang mengejutkan dari adik perempuanku. Ibuku memberikan kamarnya untuk mereka tempati. Kamar Ibuku adalah kamar utama dirumahku, terletak dibagian depan. Kami sangat menghargainya. Tak sekalipun kami anak-anaknya sesuka hati tiduran diranjang Ibuku. Bener-bener ke ubun-ubun emosi ku mendengar. “Dasar adik laki-laki kurang ajar, tak punya otak, otak di kaki”. Begitu gumamku. Aku sampai menangis karna sakit  hati. Benar-benar dikakinya harga diri orang tua ku. Aku langsung menelpon Ibuku, menumpahkan kekesalanku. Sepertinya adik ku dikampung juga sudah mengungkapkan kejengkelannya, sehingga giliran aku menelpon, Ibuku malah marah dan bilang, aku ini seorang Ibu, pikiran kalian tidak sama dengan pikiranku. Aku hanya pasrah memeluk kekesalanku.Sejak kejadian itu, aku berubah menjadi malas. Tidak mau lagi rasanya aku mendengar berita-berita dikampung. Pulang kampung pun aku malas. Entah kenapa, pembicaraan dan laporan-laporan seputar adik laki-lakiku hanya merusak mood ku, menambah stress ku.

Drama tentang Oda tidak ada habisnya. Setelah aku memutuskan tidak mau tau dan malas pulang, tiba-tiba aku mendapat laporan dia disuruh oleh Ibuku pindah ke kamarku. Awal-awal aku mendapat laporan dari kakakku, dia pribadinya bersih. Ada dia rumahku menjadi bersih. Tapi hari ini, aku mendapat kabar lagi, dia bertengkar hebat dengan adikku. Menurut adikku dia malas bangun pagi, sudah jam 9 pagi masih saja tidur. Jadi pagi itu, adikku hendak membangunkannya, tapi dia malah balik marah dan menghina suami adikku yang tidak tau apa-apa. “Suami anjingmu itu juga pagi tidur ntah jam berapa bangunnya”. Padahal suami adiiku itu, dia kerjanya malam, jadi ya wajar-wajar saja harinya jadi kebalik. Tapi si Oda seperti lupa diri, dia lupa dimana dia sedang tinggal. Lantas saja adikku langsung emosi, perkelahian pun tidak dapat dielakkan. Singkat cerita, Oda terusir dari rumah, oleh adik dan kakak-kakakku. #bersambung_



Oda dan Kematiannya Part-1 Oda dan Kematiannya Part-1 Reviewed by Purnama Merindu on Januari 25, 2024 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.