Rendahnya Kemampuan Literasi Anak Indonesia Memang Menjadi "PR" Besar Kita Bersama. Apakah penyebabnya?
Halo teman-teman semua, apa kabar?
Semoga teman-teman selalu dalam keadaan sehat. Pada kesempatan kali ini, saya
ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya pernah mengajar dibeberapa Sekolah
Dasar di Sumatera Barat. Saya benar-benar sedikit tergelitik dengan permasalahan terkait kemampuan
literasi anak Indonesia yang menurut UNESCO berada pada daftar 10 negara
terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Nah, teman-teman berikut
sedikit cerita tentang pengalaman saya mengajar siswa Sekolah Dasar di daerah
yang keseharian anak-anaknya masih kental menggunakan Bahasa Ibu. Kira-kira ini ga ya penyebabnya?
Kuatnya bahasa Ibu berpengaruh
pada rendahnya pemahaman siswa terhadap teks atau soal tes yang disajikan dalam
Bahasa Indonesia.
Pengalaman 10 tahun menjadi guru,
saya mendapatkan bahwa yg menjadi PR besar kami guru pada pembelajaran di
Sekolah Dasar khususnya di daerah yang masih kental dengan Bahasa Ibunya adalah
bukanlah bagaimana menanamkan konsep IPA, IPS dan lainnya kepada siswa, tapi
yang menjadi masalah besar itu adalah bagaimana anak memahami kalimat, wacana,
perintah soal maupun menyusun kalimat untuk dapat menjelaskannya kembali.
Hampir setiap hari ada saja
moment lucu ketidaknyambungan antara jawaban siswa dengan soal-soal tes yang
diberikan secara tertulis. Padahal jika pertanyaan-pertanyaan itu kita tanyakan
langsung kepada mereka dengan Bahasa Ibu mereka dapat dengan cepat menjawab
dengan benar.
Ini memang PR besar kita semua,
saya sebagai guru terkadang merasa risau ketika menemukan peserta didik saya
tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya yakini sangat mudah. Usut
demi usut ternyata mereka memang tidak paham maksud soalnya. Contoh soal yang
pernah saya berikan adalah “Dibawah ini benda yang memiliki serat halus
adalah....”. Siswa saya malah bingung dan pada nanya, Buk serat itu apa?. Nah,
itu untuk siswa yang berani bertanya, sedangkan yang lainnya, lebih memilih
menjawab asal-asalan.
Contoh lain yang pernah saya temui
seperti dalam pada soal “Kecenderungan benda cair adalah....”, “Kegiatan
peleburan besi adalah contoh peristiwa…..”, “perubahan benda gas menjadi
kristal contohnya adalah pada peristiwa….”. Siswa-siswa tersebut ternyata tidak
paham maksud dari kata “kecenderungan”, “peleburan”, “kristal”. Jadi
teman-teman, setiap kali ujian, jika siswa diizinkan untuk bertanya maka
sebagai guru kita akan sibuk menjawab pertanyaan mereka terkait arti beberapa
kosakata kata pada soal. Seolah-olah mereka meminta kita untuk mentranslatenya dalam
bentuk Bahasa Ibu.
Bahkan waktu itu saat ujian
semester ada kejadian yang membuat saya benar-benar tidak habis pikir. Pada
lembar soal yang diberikan disajikan gambar orang sedang menggambil getah karet,
gambar nya sangat jelas dan bewarna, pertanyaan yang diajukan adalah “ gambar
diatas adalah kegiatan ekonomi di bidang…..”. Ternyata ada beberapa siswa yang
memilih option “perikanan”. Kemudian saya tanyakan kepada siswa dalam bahasa
ibu, kamu tahu itu gambar orang sedang apa? Mereka jawab dalam bahasa ibu (bahasa
minang) “tahu buk, manakik gatah”. Terus kenapa Ananda memilih option “perikanan”.
Ternyata setelah dicari tahu mereka tidak paham makna kata pada pilihan jawaban,
dan kata-kata perikanan terasa asing di telinganya sehingga memilih itu.
Lalu apakah yang dapat kita
simpulkan dari kejadian diatas? Penguasaan kosakata siswa untuk Bahasa
Indonesia sendiri masih sangat rendah. Sehingga tidak jarang para guru di
Indonesia mendapati ujian tertulis anak-anak nya sangat rendah padahal
soal-soal tersebut dirasa sangat mudah dan konsepnya sudah dijelaskan dengan
berbagai metode dan media. Bahkan yang sering bikin senyum-senyum sendiri itu
bukan hanya karena jawaban yang salah, tapi jawaban yang dituliskan itu
benar-benar tidak nyambung dengan pertanyaan pada soal. Sebenarnya, bukan
konsepnya siswa yang tidak mengerti, tapi maksud soalnya. Ini juga pernah saya temukan
sendiri ketika mendampingi keponakan membuat PR. Keponakan saya yang waktu itu
kelas satu SD sudah mampu membaca dan menulis, kemudian dia mengerjakan soal PR
"Ibu memasak di...?". Soal yang mudah bukan? Namun dia malah nanya ke
saya jawaban nya apa. Kemudian saya translate ke Bahasa Minang "Amak
manyamba dima Nak?", “di dapua (di dapur)” jawabnya. Benarkan? mereka bisa baca,
namun tidak paham maksud soalnya.
Hal seperti ini juga dialami
siswa pada saat membaca teks atau wacana pada bacaan. Siswa tidak dapat
menemukan jawaban di dalam teks bacaan atau menjawab pertanyaan seputar teks
dengan benar. Padahal mereka sudah baca teksnya sampai habis. Artinya, mereka
bisa BACA namun TIDAK PAHAM.
Kuatnya bahasa Ibu berpengaruh
pada rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan berbicara di sekolah.
Pada saat kegiatan berbicara
disekolah, seperti menceritakan kembali buku yang telah dibaca. Kecenderungan siswa
adalah menghafal kalimat-kalimat dalam buku itu secara utuh, bukan menyusun
sendiri kata-kata sesuai isi cerita, sehingga tidak jarang mereka lupa,
kemudian tiba-tiba terdiam pada saat bercerita. Hal ini disebbkan karena siswa tidak
terbiasa merangkai kalimat dalam Bahasa Indonesia. Fenomena ini mungkin sama
seperti halnya kita mendengar orang bule berbicara, sedikit banyaknya kita mengerti
karena ada satu dua kata yang kita tahu artinya, tapi sangat sukar bagi kita
untuk berbicara sendiri karena kosakata Bahasa Inggris kita memang sangat sedikit. Siswa yang sedari
kecil dalam kesehariannya sudah dibiasakan dengan dua Bahasa yaitu Bahasa Ibu
dan Bahasa Indonesia, mereka akan sangat mudah menjawab pertanyaan yang berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari dan pada saat kegiatan bercerita, mereka memang
benar-benar akan menceritakan kembali dengan bahasa mereka, bukan menghafal
teks cerita.
Lalu, bagaimana sebaiknya?
Bahasa Ibu memang sangat bagus
pada awal-awal pengenalan atau penerimaan bahasa pada anak yaitu usia pra
sekolah. Namun, alangkah baiknya dalam keseharian anak dirumah juga dibarengi
dengan pengenalan Bahasa Indonesia kepada anak sehingga sejak kecil anak sudah
mengenal dua bahasa. Karena menurut saya bahasa Indonesia yang masih asing bagi anaklah yang
menyebabkan rendahnya kemampuan literasi anak Indonesia. Bukankah semua teks
dan bacaan disajikan dalam Bahasa Indonesia?
Sekian dulu pembahasan kita kali
ini teman-teman, sampai jumpa diartikel selanjutnya. Terimakasih sudah membaca.
See u…

Tidak ada komentar: