Ayah Bunda, waktu kecil dulu pernahkah mengalami dipaksa
untuk melakukan suatu aktivitas atau mungkin sebagai orang tua pernah memaksa
anak melakukan sesuatu. Seperti, memaksa agar anak pintar bermain musik, memaksa
anak les menari dan sebagainya. Memaksa terkadang bisa berhasil setidaknya
untuk jangka pendek, mungkin anak pada saat itu akan melakukannya karena rasa
takut. Namun ada dampak jangka panjang yang mungkin tidak kita sadari.
Apa saja itu dampaknya?
Pertama, perilaku yang ditunjukkan anak tidak akan jadi
kebiasaan dalam jangka panjang, perilaku itu hanya akan dilakukan jika ada
paksaan dari luar. Karena perilaku tersebut bukan muncul dari kesadaran
internal. Kedua, akan hilang
ketertarikan bahkan muncul antipati terhadap kegiatan yang dipaksakan. Misalnya
anak yang dipaksa bermain musik mungkin malah akan muncul antipati pada musik,
bukan karena musiknya tetapi karena pemaksaannya. Ketiga, kemerdekaan
berekspresi dan potensi anak menjadi terbatas.
Lalu bagaimana seharusnya?
Tiga dampak pemaksaan terhadap anak melakukan aktivitas tertentu
yang mungkin pernah ayah bunda lakukan, bertolak belakang dengan perilaku
disiplin yang kita harapkan. Jika kita kaitkan dengan pendidikan anak, Ki Hajar
Dewantara menyiratkan bahwa disiplin yang kuat adalah syarat utama untuk
mencapai kemerdekaan. Untuk menciptakan anak yang merdeka diperlukan disiplin
yang kuat yaitu disiplin diri dan memiliki motivasi internal. Sementara merdeka
menurut Ki Hajar Dewantara yaitu tidak hanya terlepas dari perintah akan tetapi
juga cakap buat memerintah diri sendiri. Hal yang sama diungkapkan oleh Diana Gossen
bahwa disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju kepada
suatu tujuan ,sesuatu yang dihargai dan bermakna.
Sebagai orang tua kita sebaiknya menerapkan cara-cara yang
lebih positif ketika meminta anak melakukan sesuatu tanpa harus memaksa. Diantaranya
dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: pertama, mengajak atau mendorong anak
melakukan kegiatan yang membuat mereka senang, yang kedua membantu anak untuk
menemukan inspirasinya dan yang ketiga membuka ruang dialog dengan anak.
Nah, ayah bunda, sekarang mari kita refleksikan bersama, apakah kita cenderung memaksa anak untuk mengerjakan sesuatu atau kita melakukan cara-cara lain yang membuat anak merasa senang dan dihargai dalam mengerjakan sesuatu. Bagaimana rasanya ketika melakukan sesuatu tanpa dipaksa? Lalu cara seperti apa yang ingin ayah bunda praktekkan? Sampai jumpa, terima kasih sudah membaca dan membagikan artikel ini. Salam dan Bahagia.
Sumber: PMM
Tidak ada komentar: